Stunting masih menjadi tantangan kesehatan di Sulawesi Tengah dan perlu dicegah sejak sebelum kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Pencegahan dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi ibu dan anak, ASI eksklusif, MPASI bergizi, pemantauan pertumbuhan di Posyandu, imunisasi, serta penerapan sanitasi dan pola hidup bersih.
Palu, 09 September 2026 – Pencegahan stunting masih menjadi salah satu prioritas kesehatan di Sulawesi Tengah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui intervensi kesehatan, perbaikan gizi, perubahan perilaku, serta koordinasi lintas sektor.
Berdasarkan data yang disampaikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pada 2026, prevalensi stunting di Sulawesi Tengah pada 2024 tercatat sebesar 26,1 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertumbuhan anak masih memerlukan perhatian bersama, meskipun berbagai program penanganan terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan dan masyarakat.
Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis dan berbagai faktor pendukung lain dalam jangka panjang. Kondisi ini ditandai dengan tinggi atau panjang badan anak yang berada di bawah standar pertumbuhan sesuai usianya. Stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan anak apabila tidak dicegah dan ditangani sejak dini.
Pencegahan stunting perlu dimulai bahkan sebelum anak lahir. Salah satu periode yang sangat penting adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, kecukupan gizi ibu dan anak, pencegahan infeksi, pemberian ASI, pemberian makanan pendamping yang tepat, serta pemantauan pertumbuhan menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Upaya pencegahan juga perlu dilakukan sejak masa remaja, terutama dengan menjaga status gizi dan mencegah anemia pada remaja putri. Ketika memasuki masa kehamilan, ibu dianjurkan menjalani pemeriksaan kehamilan secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta memenuhi kebutuhan zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin dan risiko terjadinya gangguan pertumbuhan setelah bayi lahir.
Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kebutuhan gizi bayi. Setelah berusia enam bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI yang sesuai dengan usia, tekstur, jumlah, dan kebutuhan gizinya. Pemberian sumber protein hewani seperti ikan, telur, ayam, dan daging juga penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, pemanfaatan bahan pangan lokal yang bergizi dapat menjadi salah satu strategi dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.
Pemantauan pertumbuhan anak juga perlu dilakukan secara rutin melalui Posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan. Pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta perkembangan anak dapat membantu tenaga kesehatan dan orang tua mengetahui lebih awal apabila terdapat gangguan pertumbuhan. Dengan deteksi dini, intervensi dapat diberikan lebih cepat sebelum masalah gizi berkembang menjadi lebih berat.
Selain pemenuhan gizi, pencegahan stunting juga perlu didukung oleh lingkungan yang sehat. Keluarga perlu membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan air bersih, menjaga kebersihan makanan, memastikan sanitasi yang layak, serta melengkapi imunisasi anak. Penyakit infeksi yang terjadi berulang dapat mengganggu penyerapan zat gizi dan memperburuk kondisi pertumbuhan anak.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama pemerintah kabupaten dan kota terus mendorong percepatan penurunan stunting melalui pendekatan lintas sektor. Namun, keberhasilan program tersebut tetap membutuhkan keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat. Pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan Posyandu, pemerintah desa, sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta berbagai pihak lainnya.
Dalam upaya pencegahan stunting, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam memperkuat edukasi kesehatan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu (FKM Unismuh Palu) berkontribusi melalui kegiatan penyuluhan gizi, edukasi kesehatan ibu dan anak, pendampingan masyarakat, serta peningkatan pemahaman keluarga mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sanitasi, dan pemantauan pertumbuhan anak.
Selain itu, keterlibatan dosen dan mahasiswa FKM Unismuh Palu dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan riset kesehatan masyarakat dapat mendukung upaya pencegahan stunting berbasis kebutuhan lokal di Sulawesi Tengah. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, Puskesmas, Posyandu, sekolah, serta pemerintah desa juga menjadi langkah penting agar hasil edukasi dan penelitian dapat diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan di masyarakat.
Dengan pemenuhan gizi yang baik, pemeriksaan kesehatan yang rutin, pemberian ASI dan makanan pendamping yang tepat, serta lingkungan yang bersih dan sehat, risiko stunting dapat ditekan. Upaya yang dilakukan secara konsisten sejak masa remaja, kehamilan, hingga dua tahun pertama kehidupan diharapkan dapat membantu lebih banyak anak di Sulawesi Tengah tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.








