Jejak Alumni FKM: Moh. Rifki, Dari Pengabdian Desa Menuju Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Palu — Pengabdian di bidang kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari ruang kebijakan atau jabatan struktural. Banyak perjalanan besar justru tumbuh dari pengalaman bekerja langsung bersama masyarakat, memahami kebutuhan lokal, mengelola program, dan menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan di daerah.
Perjalanan tersebut tercermin pada Moh. Rifki, S.K.M., M.K.M., alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu yang menempuh pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat pada 2012 dan kemudian menyelesaikan pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat di institusi yang sama pada 2026.
Sejak awal karier, Moh. Rifki telah berada dekat dengan pelayanan dan program kesehatan masyarakat. Pada 2012, ia memulai pengabdiannya di Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, sebuah pengalaman yang menjadi titik awal keterlibatannya dalam sistem pelayanan kesehatan daerah.
Perjalanan profesionalnya kemudian berkembang melalui peran sebagai Fasilitator Perdesaan Sehat pada Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal pada 2013 hingga 2014. Pengalaman ini memperluas perspektifnya terhadap kesehatan masyarakat, khususnya pada pendekatan pemberdayaan, pembangunan wilayah, serta pentingnya intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat perdesaan.
Pada 2016 hingga 2018, Moh. Rifki melanjutkan pengabdian di Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju Tengah. Pengalaman bekerja di beberapa wilayah memperkaya pemahamannya terhadap dinamika pelayanan kesehatan, koordinasi program, surveilans, serta monitoring dan evaluasi kegiatan kesehatan masyarakat.
Saat ini, ia bertugas di UPTD Puskesmas Bulu Taba, Kabupaten Pasangkayu, dan terus terlibat dalam pelayanan kesehatan masyarakat pada tingkat primer.
Kompetensi yang dimilikinya mencakup kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan, surveilans epidemiologi, pengelolaan dan analisis data kesehatan, pelaksanaan program promotif dan preventif, pemberdayaan masyarakat, monitoring dan evaluasi, hingga koordinasi lintas program dan lintas sektor.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kiprah seorang tenaga kesehatan masyarakat dibangun melalui kemampuan memahami data sekaligus memahami manusia. Di satu sisi diperlukan ketelitian dalam surveilans, analisis program, dan pelaporan. Di sisi lain, dibutuhkan kemampuan berkomunikasi, membangun kepercayaan, dan bekerja bersama masyarakat.
Pilihan Moh. Rifki untuk kembali melanjutkan pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat di FKM Universitas Muhammadiyah Palu memperlihatkan komitmen terhadap pengembangan kapasitas secara berkelanjutan. Pengalaman lapangan yang telah dibangun selama bertahun-tahun kemudian diperkuat melalui pendekatan akademik yang lebih mendalam.
Jejak kariernya juga memperlihatkan konsistensi dalam satu garis pengabdian: hadir di tengah masyarakat, memperkuat program kesehatan, dan menjaga agar pelayanan tetap berjalan dari tingkat daerah hingga Puskesmas.
Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu, perjalanan alumni seperti Moh. Rifki menjadi gambaran bahwa kontribusi kesehatan masyarakat tidak selalu diukur dari seberapa tinggi sebuah jabatan, tetapi dari seberapa konsisten ilmu diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Sejalan dengan motto yang dipegangnya, “Bekerja dengan integritas, melayani dengan hati, dan berkontribusi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” perjalanan Moh. Rifki mencerminkan nilai pengabdian yang tumbuh dari pengalaman, kompetensi, dan komitmen terhadap pelayanan.
Melalui rubrik “Jejak Alumni FKM: Dari Kampus Menuju Pengabdian”, FKM Universitas Muhammadiyah Palu terus menghadirkan kisah alumni yang membawa ilmu dari ruang kuliah ke ruang pelayanan, pemberdayaan, dan pengabdian di tengah masyarakat.